BAB II
ALIRAN DALAM FILASAFAT ISLAM
A.
Paripatetik
[1]Paripatetik
disebut juga sebuah aliran rasionalisme murni, maksudnya setiap pemikiran yang
dikembangkan masih terpengaruh filosof yunani seperti aristoteles dan plato.
Abu Nasr al-Farabi adalah filosof pertama yang mengonsep filsafat Islam.
Al-Farabi selama hidupnya berusaha untuk mengharmoniskan ide-ide Plato dan
Aristoteles. Ia sebagaimana mayoritas pemikir muslim lainnya, salah menganggap
buku Otologia tulisan Plotinus sebagai milik Aristoteles. Itulah mengapa tanpa
disadarinya ia terpengaruh Neo Platonisme. Farabi termasuk penggagas filsafat
Paripatetik yang pada akhirnya berhadap-hadapan dengan filsafat-irfani
Suhrawardi. Ibnu Sina adalah salah satu filosof lain yang digabungkan pada
aliran filsafat Paripatetik. Dengan kejeniusannya, ia menuangkan ide-idenya
kedalam tulisan-tulisan filsafatnya.Dalam filsafat parepatetik disitu
mengangkatkan tentang rekonsiliasi seperti yang diungkapkan oleh al-Farabi.
Al-farabi berusaha merekonsiliasikan antara filsafat dan agama. Para filosof
sangat meyakini Al-qur’an dan hadis adalah hak dan benar demikian juga filsafat
adalah benar. Ia menegaskan keduanya itu tidak bertentangan. Begitu juga
mengenai ketuhanan, penciptaan alam dan lainnya.Intinya filsafat perepatetik
ini masih bersiafat rasionalisme murni yang masih terpengaruhi pikiran
neoplatonisme (Aristoteles dan Plato ).
B.
Isyraqiyyah (Illuminisme)
[2]Tokoh pelopor munculnya filsafat
iluminatik ini adalah Suhrawardi. Nama lengkapnya adalah Sihabuddin Yahya ibn
Habasy ibn Amirak Abu Alfutuh Suhrawardi. Ia dilahirkan di kota kecil,
Suhraward, Persia lalu pada tahun 549/1154 M. Suhrawardi disebut juga Al-Syaikh
Al-Maqtul, seperti halnya Socrates, ia dibunuh oleh penguasa Islam pada waktu
itu karena pemikiran filsafatnya yang dianggap menentang maenstream
pemikiran pada waktu itu. Filsafat Isyraqiyyah ini pada
mulanya digunakan Suhrawardi untuk mengkritik filsafat peripatetiknya Ibnu
Shina. Dalam serangannya yang mungkin paling sengit pada Ibnu Shina, Suhrawardi
menolak secara empatik pandangan Ibnu Shina sebagai filosof Timur (masyriqi). Dalam
pandangan Suhrawardi, filsafat Paripatetik yang diusung oleh Ibnu Shina dan
kawan-kawan tidak layak diklaim sebagai filsafat Timur. Ada perbedaan yang
mendasar antara filsafat paripatetik dengan filsafat Timur. Serangan dan kritik
utama Suhrawardi lebih merujuk pada buku yang berjudul Kararis al-Hikmah, yang
dinisbahkan oleh Ibnu Shina sebagai metode filsafat timur.
[3]Pertama-tama Suhrawardi menegaskan
karaguan atas klaim Ibnu Shina bahwa Kararis didasarkan atas prinsip-prinsip
ketimuran. Kemudian, ia melanjutkannya dengan menolak sengit penegasan Ibn
Shina bahwa Kararis merupakan filsafat baru atas dasar sepasang argumen
berikut: Pertama, tidak ada filsafat Timur sebelum Suhrawardi menciptakan
filsafat iluminasi. Kedua, Suhrawardi bersikeras menunjukkan bahwa Kararis
sesungguhnya disusun semata-mata sesuai dengan kaidah-kaidah Peripatetik
(qawaid al-masyasya’in) yang sudah mapan, yang terdiri dari masalah-masalah
yang hanya dimasukkan dalam apa yang olehnya dikhususkan sebagai philosophia
generalis (al-hikam al-ammah).
[4]Dengan konsep al-Isyrâq-nya,
Suhrawardî menyatakan bahwa seluruh alam semesta merupakan rentetan dari
intensitas cahaya. Gradasi sinar dari sumber cahaya berakhir pada kegelapan.
Semua kajian dalam bagian kedua membentuk bangunan teosofi berupa perpaduan
antara filsafat dan tasawuf. Oleh karena itu, Suhrawardî dianggap sebagai
pencetus dan pelopor konsep kesatuan iluminasi (wahdat
al-‘isyrâq). Hal ini dikarenakan usaha Suhrawardî untuk mengoptimalkan
proses iluminasi sebagai ilustrasi holistik dari kesatuan wujud (wahdat
al-wujûd) yang dikembangkan Ibn ‘Arabî (Netton, 1994:258).
Gagasan mengenai kesatuan iluminasi yang diajarkan oleh
Suhrawardî merangsang munculnya sikap protes dan anti pati dari kalangan ahli
fiqh (islamic jurisprudence). Karena dianggap sesat dan mendatangkan
keresahan dalam masyarakat, para ahli fiqh itu kemudian mengadili Suhrawardî
serta menjatuhkan hukuman mati (hukuman gantung) kepadanya. Meskipun dengan
berat hati, Suhrawardî menerima keputusan itu demi mempertahankan pemikiran
yang diyakininya sebagai kebenaran paling hakiki
Jadi
seperti yang dijelaskan dalam filsafat paripatetik bahwa yang namanya wujud itu
bukan satu tingkat tetapi bertingkat-tingkat. Wujud ini diistilahkan dengan
akal. Maka dalam paripatetik selalu populer dengan istilah akal satu, akal dua,
akal tiga dan sebagainya. Ini merupakan penggambaran hirarkisitas aktualisasi
wujud tersebut. Semakin jauh tingkat wujud tersebut dari wujud utama, maka
wujud tersebut kualitasnya semakin rendah dan begitu sebaliknya, semakin tinggi
tingkatan wujud tersebut hingga mendekati aqal pertama maka kualitas wujud
tersebut semakin suci dan luhur.
[5]Begitu juga dengan iluminasi. Wujud
di sini secara material diidentikan bukan dengan cahaya melainkan dengan
cahaya. Sehingga ada cahaya utama yang merupakan cahaya maha cahaya, dari
cahaya utama ini merupakan mewujudkan cahaya pertama, cahaya pertama mewujudkan
cahaya ke dua, dari cahaya ke dua mewujudkan cahaya ke tiga dan seterusnya
hingga sampailah cahaya yang terrendah yakni tingkatan cahaya yang dekat dengan
alam materi.
Sekarang
pertanyaannya adalah mengapa cahaya begitu penting dalam filsafat iluminismenya
Suhrawardi? Kenapa bukan aqal yang menjadi sarana atau materi utama dalam
mengartikulasikan filsafatnya? Karena ia lebih suka menggunakan keraifan lokal (local
wisdom) dari nenek moyangnya yaitu budaya zoroasterisme. Jadi pada
prinsipnya secara material, filsafat Suhrawardi ini bukan an sich dari Yunani
maupun dari wahyu Islam, tetapi yang terutama dalah dikonstruk dari budaya
lokal, yakni budaya ketimuran. Hikmatul Isyraqiyyah yang berarti kebijakan
Timur adalah pengalaman ilahiyah yang sudah ada sebelum Suhrawardi lahir yang
dibawa para wali-wali dan orang suci (Ancient Person). Ini merupakan
wujud obsesinya untuk mengkritik keras filsafatnya Ibnu Sina yang sebelumnya
dikatakan sebagai filsafat Timur seperti disinggung di atas. Jadi, melalui term
Hikmatul Isyraqiyyah ini Suharawardi hendak mengatakan bahwa filafat
iluminisme ini adalah filsafat yang khas sebagai representasi absah dari
peradaban Timur, karena secara sosio-cultural, ia diramu dari tradisi-tradisi
klasik Timur yang dikenal dengan tradisi zoroasterian.
[6]Namun seperti yang dikatakan di
atas, meskipun ini merupakan jenis pengalaman spiritual, namun ketika sudah
didapatkan bukan berarti ia menjadi realitas yang tak terbahasakan. Tetapi bagi
Suhrawardi pengalaman itu justru harus dikonfirmasikan, didiskursuskan secara
logis.
Menurutnya
ada beberapa metode yang harus ditempuh oleh seseorang untuk mendapatkan
pengetahuan model iluminasi ini. Tahap pertama, seseorang harus
membersihkan diri dari kecenderungn diri, dari kecenderungn duniawi untuk
menerima pengetahuan duniawi. Kedua, setelah menempuh tahap pertama,
sang filsof memasuki tahap iluminasi yang di dalamnya ia mendapatkan
penglihatan akan sinar ketuhanan (An-nur Ilahiyah) serta mendapatkana
apa yang disebut dengan cahaya ilham (Al-Anwarus Sanihah). Ketiga,
tahap pembangunan pengetahuan yang utuh, di dasarkan atas logika diskursif. Keempat
adalah tahap pengungkapan dan penulisannya.
C.
Genosis / Irfani
[7]Genosis /
irfani berkaitan erat dengan tasawuf falsafinya Ibnu ‘Arabi dengan kosep wahdat
al-wujûd (unity of existence). Dalam terminologi Ibn ‘Arabi, nasût
diubah menjadi al-khalq (makhluk) dan lahût menjadi al-haqq
(Tuhan). Pemikiran ini timbul dari paham yang menyatakan bahwa Tuhan ingin
melihat diri-Nya di luar diri-Nya dan oleh karena itu ia menciptakan alam. Di
kala Ia ingin melihat diri-Nya, maka ia melihat alam karena tiap-tiap makhluk
hidup yang ada di alam terdapat sifat ketuhanan. Dengan demikian, alam
merupakan cermin bagi Tuhan. Dalam cermin itu diri-Nya kelihatan banyak, tetapi
sebenarnya hanya satu. Di sinilah muncul paham kesatuan.
Usaha untuk mencari relasi filsafat dengan tasawuf
ternyata tidak hanya didominasi oleh Ibn ‘Arabî dan para pengikutnya. Tetapi,
usaha tersebut juga dirintis oleh para filosof lain dengan metode dan
pendekatan yang berbeda. Salah satu di antara para filosof itu adalah
Suhrawardî. Ia memperkenalkan filsafat iluminasi (al-isyrâqiyat)
yang bersumber dari hasil dialog spritual dan intelektual dengan
tradisi-tradisi dan agama-agama lain. Suhrawardî memperkenalkan diri sebagai
penyatu kembali apa yang disebutnya sebagai hikmat
al-ladûnniyat (kebijaksanaan ilahi) dan al-hikmat
al-’âtiqat (kebijaksanaan kuno). Ia yakin bahwa kebijaksanaan ini
adalah perenial (abadi) dan universal yang terdapat dalam berbagai bentuk di
antara orang-orang Hindu, Persia, Babilonia, Mesir Kuno dan orang-orang Yunani
sampai masa Aristoteles.
D.
Madzhab Isfahan
[8]Filsafat madzhab Isfahan ini lebih
dikenal dengan Al-Hikamtul Muta’aliyyah atau fislafat tinggi. Munculnya madzhab
Isfahan ini tak terlepas dari pergelokan politik pada waktu itu. Isfahan adalah
sebuah daerah di daratan Persia. Istilah ini mula-mula dipopulerkan oleh Nasr,
Corbin Asytiyani dan selanjutnya diperluas oleh sarjana-sarjana lainnya.
Pendiri madzhab ini adalah Mir Damad yang kelak melahirkan murid tersohornya:
Mulla Shadra sebagai penerus dan pengembang madzhab Isfahan ini. Oleh karena
itu filsafat Hikmah (Al-Hikmatul Muta’aliyyah) atau mdazhab Isfahan ini
merupakan fiilsafat yang bermuara pada kedua tokoh guru murid tersebut.
Madzhab ini muncuk ketika dinasti
Shafawiyah mulai memindahkan ibukotanya dari Tibriz, kemudian ke Qazwin dan
terakhir di Isfahan. Pada periode ini, Madzhab Isfahan berhasil membangun
teologi yang kukuh, dan Persia mengalami salah satu periode terbesar dalam
kemakmuran politik dan materialnya. Namun pada perjalanan selanjutnya, dalam
usaha yang tak kenal untuk memperkuat legitimasi kekuasaannya dinasti
shafawiyyah membutuhkan ahli fiqh dan para ahli Syi’ah dogmatis. Ini belum lagi
para pengkhutbah dan para ulama yang ditugaskan untuk menyebarluaskan idiologi
negara. Inti madzhab isfahan ini adalah upaya untuk menyatukan kekuatan yang
beragam dan bertentangan dalam sejarah intelektual Islam ke dalam kesatuan
epistemologis dan ontologis yang selaras. Hingga puncak gerakan ini pada diri
Mulla Shadra As-Syirazi, upaya-upaya Mir Damad haruslah dianggap sebagai
kerangka persiapan..
[9]Pada mulanya terdapat beragam
pertentangan intelelektual Islam. Satu sisi ada kelompok filafat, kemudian kaum
sufistik dan dogmatikawan Syi’ah. Ketiga kelompok ini memunculkan pandangan
yang berbeda sehingga berpotensi menimbulkan perpecahan. Hal ini terutama para
doktrinal Syi’ah yang didukung oleh penguasa Shafawiyyah hendak membabat habis
para filsof. Praktik filsafat yang diupayakan oleh para filsof Persia dianggap
sebagai amalan berbahaya dan mempunyai resiko bahay bagi merek asendiri. Hal
ini mempengaruhi terhadap kebijakan politik Bani shafawiyyah. Penguasa
shafawiyyah tidak mengalokasikan anggaran untuk studi filsafat. Hal ini
diperparah dengan serangan yang keras dari para dogmatikawan Syi’ah. Mereka
menilai negatif para filsof dengan menganggap bahwa para filsof adalah
orang-orang kafir dan menghina Tuhan. Tantangan yang hendak dipenuhi oleh
madzhab Isfahan adalah mengawinkan semua diskursus yang beragam dan
bertentangan mengenai pemhaman yang sah yang secara historis telah
mengkotak-kotakan kaum muslimin dan selanjutnya menemptkan Syi’ah yang memimpin
semua itu. Butir-butir penting sisnya bukan hanya membuat tradisi filsafat
madzhab peripatetik dan ilumininsme, melainkan juga gnosis versi Ibnu Arabi san
Syai’ah periode pasca Ghaibah.
[10]Terilhami oleh cita-cita itu, Mulla
Shadra, sebagai murid kaliber Mir Damad, kemudian mengembangkan filsafat yang
revolusioner dan ambisius dalam upaya membuat sintesis yang menyeluruh, bukan
hanya antara orientasi-orientasi beragam dalam tradisi paripatetik dan illuminisme
Islam, melainkan yang lebih mendasar lagi, mengkoordinasikan sintesis yang
sulit itu dengan dioktrin gnosis dan doktrin fiqh Syai’ah. Filsafat ini secara
umum bertumpu pada tiga teori yaitu kesatuan wujud (wahdatul wujud),
keutamaan wujud (ashalatul wujud), gerak substansial (alkharokatul
jauhuhariyyah) dan kemanunggalan yang menmgetahui dan diketahui (ittihad
al-‘aqil wa ma’qul). Filsafat ini berusaha menjembatani antara paradigma
rasional empiristik dengan spiritula –mistik. Oleh karena itu, titik tolak dari
seluruh bangunan filsafat Isfahan ini adalah konsep Ada (wujud). Jadi obyek
material filsafat ini yang paling pokok adalah Being atau Ada.
Sebelumnya, ketika masih di tangan
Mir Damad filsafat ini berpijak pada keberhasilan berkelanjutan diskursus-diskusus
Paripatetik (rasionalistik-aristotelian) dan iluminisme (spiritual) yang
dominan dalam jagat diskurusus filsafat Islam di masa Ibnu Shina dan
suharawardi. Baik Mir Damad maupun Mulla Shadra mencela praktik
spiritual-sufistik hingga melalaikan rasio dan juga sebaliknya para ahli fiqh
yang dogmatis. Bahkan Mulla Shadra mengecam keras kaum sufi yang mabuk maupun
para fiqh yang literalis.
[11]Sebagai filsafat yang berdasarkan
pada konsep Ada, filsafat ini pada level ontologis hampir sama dengan filsafatnya
Heidegger. Filsafat Heidegger adalah filsafat yang berprinsip pada konsep Ada
(Being). Hal ini diilhami oleh filsafat Barat yang menurut Heidegger sendiri
terjangkiti amnesia tentang Ada. Ada pada filsafat modern Barat disamakan
dengan adaan (being). Maka dari itu, filsafat madzhab Isfahan ini untuk era
postmodernisme ini sebenarnya menemukan momentumnya. Ketika filsafat modern
diklaim sebagai filsafat yang tak kenal Ada sehingga menimbulkan beragam
masalah akut pada wilayah aksiologinya, maka filsafat Isfahan ini mempunyai
potensi antitesis terhadap spirit filsafat modern yang mulai dikritik dan
digugat oleh banyak orang itu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar