TAFSIR
I
SURAH
“AL-FATIHAH, AL-QAARI’AH
AL-HADID 20”
DOSEN
PENGAMPU
AGUSTINI.
M.Ag
OLEH
MUHAMMAD
RISANTOSO
NIM : 2113317861
FAKULTAS
DAKWAH
KOMUNIKASI
PENYIARAN ISLAM (KPI)
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) BENGKULU
TAHUN
AJARAN 2012/2013
KATA
PENGANTAR
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Puji
dan Syukur saya panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan
Rahmat dan Karunianya sehingga saya dapat menyusun makalah ini tepat pada
waktunya. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada dosen
pengamppu dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan
makalah ini.
Makalah ini membahas tentang “Tafsir Surah Al-Fatihah,
Al-Qaari’ah Dan Surah Al-Hadid Ayat 20”. Dalam penyusunan makalah ini, saya
banyak mendapat tantangan dan hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai
pihak tantangan itu bisa teratasi. Oleh karena itu, saya ucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga
bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Saya menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya.
Kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca sangat saya harapkan
untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir
kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita sekalian,
wassalammualaikum Wr.Wb.
Penulis
Muhammad
Risantoso
2113317861
DAFTAR
ISI
1. Halaman Judul.............................................................................................
2. Kata Pengantar............................................................................................ i
3. Daftar isi...................................................................................................... ii
4. BAB I............................................................................................................ iii
5. BAB II.......................................................................................................... 1
6. Penutup........................................................................................................ 20
7. Daftar Pustaka............................................................................................. 21
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Al-Qur`an adalah sumber dari segala
sumber ajaran Islam. Kitab suci menempati posisi sentral bukan saja dalam
perkembangan dan pengembangan ilmi-ilmu ke Islaman , tetapi juga merupakan
inspirator dan pemandu gerakan-gerakan umat Islam sepanjang empat belas abad
lebih sejarah pergerakan umat ini.
Al-Qur`an ibarat lautan yang amat
luas, dalam dan tidak bertepi, penuh dengan keajaiban dan keunikan tidak akan
pernah sirna dan lekang di telan masa dan waktu. Maka untuk mengetahui dan
memahami betapa dalam isi kandungan al-Qur`an diperlukan tafsir. Penafsiran
terhadap al-Qur`an mempunyai peranan yang sangat besar dan penting bagi
kemajuan dan perkembangan umat Islam. Oleh karena itu sangat besar perhatian
para ulama untuk menggali dan memahami makna-makna yang terkandung dalam kitab
suci ini. Sehingga lahirlah bermacam-macam tafsir dengan corak dan metode
penafsiran yang beraneka ragam pula, dan dalam penafsiran itu nampak dengan
jelas sebagai suatu cermin perkembangan penafsiran al-Qur`an serta corak pemikiran
para penafsirnya sendiri.
Ada beberapa metode yang digunakan
untuk menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an diantaranya adalah metode Tafsir Al-Aqli
Al-Ijtihadi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tafsir bil al-ra’yi (tafsir
berdasarkan pikiran). Tafsir ini juga disebut tafsir bi al-‘aqli, tafsir bi
al-dirayah (tafsir berdasarkan pengetahuan) atau tafsir bi al-ma’qul. Tafsir bi
al-ra’yi sering dipergunakan oleh para mufassir untuk melegitimasi mazhabnya
sesuai dengan ayat-ayat al-Qur’an dan menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an sesuai
dengan mazhabnya.
Metode tafsir yang lain yaitu tafsir
Al-Isyari atau tafsir berdasarkan indikasi. Dalam hal ini saya akan mencoba menarik tafsir dari beberapa
surah dalam Al-Qur’an
adapun surah
tersebut yaitu, Surah Al-Fatihah, Al-Qaari’ah, dan Surah Al-Hadid ayat 20.
B. Rumusan
Masalah
Dari pemaparan diatas, dapat disimpulkan sebuah rumusan
masalah sebagai berikut:
1.
Apa Tafsir dari surah Al-Fatihah ?
2.
Bagaimana Tafsir dari Surah Al-Qaari’ah ?
3.
Dan bagaimana pula Tafsir dari surah Al-Hadid ayat 20
Untuk lebih jelasnya marilah kita lihat
uraiannya pada pembahasan
berikut ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Surat Al-Fatihah
1:1 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
1:2 الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
1:3 الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
1:4 مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
1:5 إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
1:6 اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
1:7 صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ
عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Bismi
allaahi alrrahmaani alrrahiimi, alhamdu lillaahi rabbi al'aalamiina,
alrrahmaani alrrahiimi, maaliki yawmi alddiini, iyyaaka na'budu wa-iyyaaka
nasta'iinu, ihdinaa alshshiraatha almustaqiima, shiraatha alladziina an'amta
'alayhim ghayri almaghdhuubi 'alayhim walaa aldhdhaalliina.
1)
dengan menyebut nama Allah yang
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
2)
segala puji bagi Allah, Tuhan
semesta alam
3)
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
4)
yang menguasai di hari Pembalasan.
5)
hanya Engkaulah yang Kami sembah
dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan
6)
TunjukilahKami jalan yang lurus,
7)
(yaitu) jalan orang-orang yang
telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan
bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
B.
Tafsir dari Surat Al-Fatihah
Surat
Al-Fatihah yang
merupakan surat pertama dalam Al Qur’an dan terdiri dari 7 ayat adalah masuk
kelompok surat Makkiyyah, yakni surat yang diturunkan saat Nabi Muhammad di
kota Mekah. Dinamakan Al-Fatihah, lantaran letaknya berada pada urutan pertama
dari 114 surat dalam Al Qur’an. Para ulama bersepakat bahwa surat yang
diturunkan lengkap ini merupakan intisari dari seluruh kandungan Al Qur’an yang
kemudian dirinci oleh surat-surat sesudahnya. Surat Al-Fatihah adalah
surat Makkiyyah, yaitu surat yang diturunkan di Mekkah sebelum Rasulullah SAW
hijrah ke Madinah. Surat ini berada di urutan pertama dari surat-surat dalam
Al-Qur’an dan terdiri dari tujuh ayat. Tema-tema besar Al Qur’an seperti
masalah tauhid, keimanan, janji dan kabar gembira bagi orang beriman, ancaman
dan peringatan bagi orang-orang kafir serta pelaku kejahatan, tentang ibadah,
kisah orang-orang yang beruntung karena taat kepada Allah dan sengsara karena
mengingkari-Nya, semua itu tercermin dalam surat Al Fatihah.
Kedudukan surat Al-Fatihah di dalam
Al-Qur’an adalah sebagai sumber ajaran Islam yang mencakup semua isi Al-Qur’an.
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW:
“Al-Hamdulillah (Al-Fatihah) adalah Ummul Qur’an, Ummul Kitab, As-Sab’ul
Matsaani dan Al-Qur’anul Adhim.” (HR. At-Tirmidzi dengan sanad shahih).
Dinamakan dengan Ummul Kitab atau Ummul Qur’an, yaitu induk Al-Qur’an, karena
di dalamnya mencakup inti ajaran Al-Quran.
Ayat
pertama:
“Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang.” Dalam kitab tafsir Fi Zhilalil Qur’an dijelaskan bahwa
memulai sesuatu dengan menyebut nama Allah merupakan adab yang diwahyukan Allah
kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam pada permulaan turunnya
wahyu Al-Qur’an ini sebagaimana telah disepakati, yaitu firman Allah, “Bacalah
dengan menyebut nama Tuhanmu. . .”[1]
Dengan menyebut sifat Allah SWT di
dalam memulai sesuatu dengan Ar-Rahman Ar-Rahim, mencakup seluruh makna rahmat
dan keadaannya. Dan Dia sendiri sajalah yang khusus menghimpun kedua sifat ini,
seperti halnya cuma Dia sendiri yang khusus memiliki sifat Ar-Rahman. Maka
boleh saja seorang hamba di antara hamba-hamba-Nya diberi sifat rahman ,
lebih-lebih melekatkan kedua sifat itu pada dirinya.
Apabila segala sesutau dimulai
dengan menyebut nama Allah yang mengandung tauhidullah dan adab terhadap-Nya
itu menggambarkan keglobalan pertama dalam tashawwur Islam. Maka cakupan
makna-makna rahmat, keadaan-keadaannya, dan lapangan-lapangannya dalam kedua
sifat “Ar-Rahman Ar-Rahim” itu menggambarkan keglobalan kedua dalam tashawwur
ini dan menetapkan hakikat hubungam antara Allah dan hamba-hamba-Nya.
Dalam tafsir Al-Misbah dijelaskan
bahwa permulaan ayat surat Al-Fatihah itu sesuai dengan kaidah utama ajaran
Islam yang menyatakan Allah adalah al-Awwal wal Akhir, Wal zhahir wal
Bathin/ Dia yang Pertama dan Dia pula yang Terakhir, Dia yang Nampak dengan jelas
(bukti-bukti wujud-Nya) Dan Dia pula yang Tersembunyi (terhadap siapapun
hakikat-Nya). Dia Yang Maha Suci itu yang merupakan wujud yang haq, yang
dari-Nya semua wujud memperoleh wujudnya, dan dari-Nya bermula semua yang
memiliki permulaan. Karena itu dengan nama-Nya, segala sesuatu harus dimulai
dan dengan nama-Nya terlaksana gerak dan arah.[2]
Ayat kedua:
“Segala puji bagi Allah, Tuhan
semesta alam.” Dalam kitab tafsir Fi Zhilalil Qur’an dijelaskan bahwa “Segala
puji bagi Allah”, inilah perasaan
yang melimpah masuk kedalam hati seorang mukmin, hanya semata-mata ingatnya
kepada Allah. Karena keberadaannya sejak awal adalah limpahan dari sekian
limpahan nikmat Ilahi yang menghimpun pujian dan sanjungan. Oleb karena itu,
mengucapkan “Alhamdulillah” di dalam memulai sesuatu dan mengakhirinya
merupakan salah satu kaidah diantara kaidah-kaidah tashawwur Islam secara langsung.
Disamping itu, sampai dan melimpah pulalah karunia Allah SWT kepada hamba-Nya
yang beriman, yaitu apabila dia mengucapkan “Alhamdulillah” maka Allah
menulis untuknya satu kebajikan yang memberatkan semua timbangan kebajikannya.
Adapun
bagian terakhir ayat yang berbunyi “Rabbil ‘aalamin” (Tuhan semesta alam),
hal ini juga menggambarkan kaidah tashawwur Islam. Kata “Rabb” berarti
Yang Berkuasa, Yang Memberlakukan/Yang bertindak. Tindakan memperbaiki dan
memelihara itu meliputi semesta alam-seluruh makhluk-sedangkan Allah SWT tidak
menciptakan alam semesta lantas membiarkannya sia-sia. Akan tetapi, Dia selalu
memperbaikinya, memeliharanya dan merawatnya. Juga seluruh alam dan semua
makhluk dipelihara dan dijaga dengan pemeliharaan Allah Tuhan semesta alam.
Maka hubungan antara Al-Khaliq dan semua makhluk itu senantiasa terjadi dan
berlaku setiap waktu dan pada setiap keadaan.[3]
Dalam
tafsir Al-Misbah dijelaskan bahwa memuji Allah adalah luapan rasa syukur yang
memenuhi jiwa seorang mukmin ketika mendengar nama-Nya disebut. Karena
keberadaan seseorang sejak semula di pentas bumi ini tidak lain kecuali
limpahan nikmat Ilahi yang mengundang rasa syukur dan pujian. Setiap kejapan,
setiap saat dan pada setiap langkah, silih berganti anugerah Allah
berduyun-duyun lalu menyatu dan tercurah kepada seluruh makhluk, khususnya
manusia. Karena itu wajar memulai dengan memuji-Nya dan mengakhiripun dengan
menuji-Nya. Ini juga sebagai kaidah utama ajaran Islam, “ Dia Allah. Tiada
Tuhan selain Dia. Bagi-Nya saja segala puji sejak awal (dalam kehidupan dunia
ini) dan di akhirat nanti”. (Al-Qashash: 70).[4]
Lanjutan
ayat ini yang menyatakan Allah Rabb al-alamin. Kata rabb, seakar
dengan kata tarbiyah, yaitu mengarahkan suatu tahap demi tahap , menuju
kesempurnaan kejadian dan fungsinya. Penggalan ayat ini merupakan keterangan
lebih lanjutnya yang membuktikan layaknya Allah SWT mendapat pujian. Allah
wajar dipuja dan dipuji karena keindahan kebaikan dan kebenaran yang disandang-Nya.
Selanjutnya Dia dipuja dan dipuji karena rububiyyah-Nya (pemeliharaan)
itu. Bermula dari mewujudkan makhluk termasuk manusia dari tiada, sampai
membimbing mereka untuk mencapai tujuan penciptaan hingga memelihara dan
memasukkan manusia kelak di surga-Nya. Jika ada yang bertanya, “Mengapa pujian
harus dikembalikan atau ditujukan kepada Allah semata?” jawabannya adalah
karena Dia Tuhan Pemeliahara seluruh alam.[5]
Ayat ketiga:
“Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” Dalam kitab tafsir Fi Zhilalil
Qur’an dijelaskan bahwa sifat ini meliputi semua rahmat dengan semua keadaaan
dan lapangannya. Kalimat ini diulangi lagi disini, di dalam teks surat dalam
ayat tersendiri, untuk menegaskan sifat yang jelas dan terang di dalam masalah rububiyyah
yang meliputi itu dan untuk memantapkan pilar-pilar hubungan yang abadi antara Rabb
dengan marbub (hamba-Nya), antara al-Khaliq dengan
makhluk-Nya, bahwa hubungan itu adalah hubungan rahmat (kasih sayang) dan
pemeliharaan yang menghimpun pujian dan sanjungan.[6]
Dalam tafsir Al-Misbah dijelaskan
bahwa pemeliharaan tidak dapat terlaksaana dengan baik dan sempurna kecuali
bila disertai oleh rahmat kasih sayang. Oleh karena itu ayat ini menggaris
bawahi kedua sifat Allah inisetelah sebelumnya menegaskan bahwa Allah adalah
Pemelihara seluruh alam. Pemeliharan-Nya itu bukan atas dasar
kesewenang-wenangan, tetapi diliputi oleh rahmat dan kasih sayang.
Ayat ketiga ini tidak dapat dianggap
sebagai pengulangan sebagian kandungan ayat pertama (Basmalah). Kalimat ar-Rahman
dan ar-Rahim dalam ayat ketiga ini bertujuan menjelaskan bahwa
pendidikan dan pemeliharaan Allah sebagaimana disebutkan pada ayat kedua, sama
sekali bukan untuk kepentingan Allah atau sesuatu pamrih. Pendidikan dan
pemeliharaan tersebut semata-mata karena rahmat dan kasih sayang Tuhan yang
dicurahkan kepada makhluk-makhluk-Nya.[7]
Ayat keempat:
“Yang menguasai hari pembalasan.”
Dalam kitab tafsir Fi Zhilalil Qur’an dijelaskan bahwa ayat ini
menggambarkan keseluruhan besar yang mendalam pengaruhnya bagi kehidupan
seluruh manusia, yaitu kepercayaan global terhadap akhirat. “Malik” adalah
puncak tingkat kekuasaan dan “yaumiddin” adalah hari pembalasan di
akhirat.
Oleh karena itu, akidah menyeluruh
ini dianggap sebagai persimpangan jalan antara ubudiyah kepada kepentingan dan
keinginan dengan kebebasan yang layak bagi manusia, antara ketundukan terhadap
ide-ide duniawi dan nilai-nilainya serta timbangannya dengan kebergantungan
kepada nilai-nilai Rabbaniyyah yang jauh mengungguli logika jahiliyah.
Persimpangan jalan antara kemanusiaan dengan hakikatnya yang tinggi yang
dikehendaki Allah bagi hamba-hamba-Nya dan pemikiran-pemikiran kotor dan
menyimpang yang tidak akan dapat mencapai kesempurnaan.[8]
Dalam tafsir Al-Misbah dijelaskan
bahwa Pemelihara dan Pendidik yang Rahman dan Rahim boleh
jadi tidak memiliki (sesuatu). Sedang sifat ketuhanan tidak dapat dilepaskan
dari kepemilikan dan kekuasaan. Oleh karena itu kepemilikan dan kekuasaan yang
dimaksud perlu ditegaskan.
Thahir Ibn Asyur menulis bahwa
penempatan ayat ini setelah penyebutan sifat-sifat Allah SWT yang lalu,
bukan sekedar untuk memaparkan sifat-sifat-Nya, tetapi ia merupakan akibat dari
sifat-sifat yang telah dipaparkanpada ayat-ayat yang lalu. Ayat-ayat yang lalu
menyifati Tuhan Yang Maha Esa itu dengan Rabb al-‘alamin dan ar-Rahman
ar-Rahim yang menunjukkan betapa sempurna kasih sayang-Nya terhadap
makhluk dan bahwa perlakuan-Nya terhadap mereka adalah atas dasar pemeliharaan,
bimbingan dan pendidikan yang mencakup perintah dan larangan guna kemaslahatan
mereka, walaupun pada umumnya perintah dan larangan itu tidak sejalan dengan
dorongan nafsu mereka, serta terasa berat olehnya. Dari sini terdorong oleh
kekhawatiran adanya orang yang hanya mengandalkan rahmat dan kasih Allah serta
pendidikan dan bimbingan–Nya yang disinggung sebelum ini, sehingga mengantar
mereka mengabaikan tuntutan-tuntuan Allah. Maka sangat perlu menggaris bawahi
bahwa Allah yang Rahman dan Rahim serta Pemeliahara dan
Pembimbing itu juga adalah Dia Pemilik hari Kemudian. Disana kelak Dia akan
memberi setiap jiwa balasan dan ganjaran sesuai dengan amal perbuatan mereka.
Informasi itu diharapkan akan mendorong setiap orang untuk melaksanakan
perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.[9]
Ayat
kelima:
“Hanya kepada Engkaulah kami
menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” Dalam
kitab tafsir Fi Zhilalil Qur’an dijelaskan bahwa inilah akidah menyeluruh yang
bersumber dari keseluruhan akidah yang disebutkan. Maka, tidak ada ibadah kecuali
kepada Allah dan tidak ada isti’anah (permohonan pertolongan) kecuali
kepada Allah juga.[10]
Dalam tafsir Al-Misbah dijelaskan
bahwa kandungan surat Al-Fatihah menurut sebuah hadits dibagi Allah SWT menjadi
dua. Setengah untuk-Nya dan setengah untuk hamba-Nya. Rasulullah SAW bersabda:
“Allah berfirman: aku membagi shalat anatar Aku dan hamba-Ku separuh-separuh, dan
untuk hamba-Ku apa yang dia mohonkan. Maka apabila seorang berkata/membaca, Alhamdulillahi
rabbil ‘alamin (segala puji bagi Allah Pemelihara seluruh alam), Allah
menyambut dengan berfirman: “Aku dipuja hamba-Ku”, dan apabila dia membaca, Arrahmanirrahim,
Allah berfirman: “Aku dipuji hamba-Ku”, dan bila dia membaca, Maliki
yaumiddin, (Pemilik hari Pembalasan) Allah berfirman: “Aku diagungkan oleh
hamba-Ku”, dan apabila dia membaca, iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in,
(Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami memohon bantuan), Allah
berfirman: “Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang dia
mohonkan.” Dan apabila dia membaca, Ihdina ash-shiratal mustaqim shiratal
ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim wa la adh-dhaalliin (jalan
mereka yang Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai, bukan juga
yang sesat), maka Allah berfirman: “Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa
yang dia mohonkan.” (HR. Muslim memalui Abu Hurairah).[11]
Yang dimaksud sholat dalam hadits di
atas adalah ayat-ayat surat Al-Fatihah.
Redaksi ayat ini, Hanya kepada-Mu kami
mengabdi dan hanya kepada-Mu kami memohon bantuan, adalah bukti bahwa
kalimat-kalimat tersebut adalah pengajaran.
Ayat
keenam:
“Tunjukkanlah kami jalan yang
lurus.” Dalam
kitab tafsir Fi Zhilalil Qur’an dijelaskan bahwa maksudnya adalah “Berilah
taufik kepada kami untuk mengetahui jalan hidup yang lurus yang dapat
menyampaikan kepada tujuan dan berilah kami pertolongan untuk tetap istiqamah
di jslsn itu setelah kami mengetahuinya.”[12]
Maka, ma’rifah[13]
dan istiqamah, keduanya adalah buah hidayah Allah, pemeliharaan-Nya dan
rahmat-Nya. Dan menghadapkan diri kepada Allah dalam urusan seperti ini
merupakan buah akidah dan keyakinan bahwa hanya Dia sendiri yang dapat memberi
pertolongan. Dan ini merupakan urusan yang terbesar dan pertama kali diminta
oleh orang mukmin kepada Tuhannya agar dia menolongnya.
Dalam tafsir Al-Misbah dijelaskan
bahwa ayat ini merupakan pernyataan seorang hamba tentangt ketulusannya
beribadah serta kebutuhannya kepada pertolongan Allah. Dengan ayat ini sang
hamba mengajukan permohonan kepada Allah, yakni bimbing dan antarlah kami
memasuki jalan lurus.
Kata ihdina terambil dari
akar kata yang terdiri dari huruf-huruf ha’, dal dan ya’. Maknanya
berkisar pada dua hal. Pertama tampil ke depan memberi petunjuk dan
kedua menyampaikan dengan lemah lembut. Dari sini lahir kata hadiah yang
merupakan penyampaian sesuatu dengan lemah lembut guna menunjukkan simpati.
Petunjuk tingkat pertama (naluri)
terbatas pada penciptaan dorongan untuk mencari hal-hal yang dibutuhkan. Naluri
tidak mampu mencapai apapun yang berada di luar tubuh pemilik naluri ini. Pada
saat datang kebutuhannya untuk mencapai sesuatu yang berada di luar dirinya, sekali
lagi manusia membutuhkan petunjuk dan kali ini Allah menganugerahkan
petunjuk-Nya berupa panca indra.
Namun, betapapun tajam dan kepekaan
kemampuan indra manusia, seringkali hasil yang diperolehnya tidak menggambarkan
hakikat yang sebenarnya. Betapapun tajamnya mata seseorang, ia akan melihat
tongkat yang lurus menjadi bengkok di dalam air. Karena itu, manusia memerlukan
petunjuk yang melebihi petunjuk akal, sekaligus meluruskan
kekeliruan-kekeliruannya dalam bidang-bidang tertentu. Petunjuk atau hidayah
yang dimaksud adalah hidayah agama.[14]
Ayat
ketujuh:
“(Yaitu) jalan orang-orang
yang telah engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang
dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” Dalam kitab tafsir Fi Zhilalil
Qur’an dijelaskan bahwa maksudnya adalah jalan orang-orang yang telah Allah
bagikan rahmat-Nya kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai karena
mereka sudah mengetahui kebenaran, tetapi kemudian berpaling darinya, dan bukan
pula jalan orang-orang yang tersesat dari kebenaran sehingga tidak tahu jalan
kebenaran sama sekali. Jalan itu adalah jalan orang-orang yang berbahagia, yang
mendapat petunjuk, yang akan sampai kepada keridhaan Allah.[15]
Dalam tafsir Al-Misbah dijelaskan bahwa nikmat
adalah kesenangan hidup dan kenyamanan yang sesuai dengan diri manusia. Nikmat
menghasilkan suatu kondisi yang menyenangkan serta tidak mengakibatkan hal-hal
negatif, baik material maupun immaterial. Kata ini mencakup kebajikan duniawi
dan ukhrawi. Sementara ulama menyatakan bahwa pengertian asalnya berarti
“kelebihan” atau “pertambahan.” Nikmat adalah sesuatu yang baik dan berlebih
dari apa yang telah dimiliki sebelumnya.
Sejarah dan pengalaman sehari-hari
membuktikan bahwa ketaan kepada Allah SWT atau dengan kata lain melaksanakan
kebenaran dan kebajikan, menghasilkan imbalan baik. Kalau bukan saat itu,
paling tidak pada akhirnya. Demikian pula pembangkangan terhadap kebenaran
menimbulkan penyesalan, bahkan siksaan paling sedikit adalah siksaan batin.
Kalau bukan sesaat sesudah pelanggaran itu, maka tentu pada akhirnya.
Tentang siapakah al-maghdhub
‘alaihim, ayat ini tidak menjelaskannya. Sementara ulama tafsir berdasarkan
keterangan suatu hadits Nabi SAW, menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang
Yahudi. Al-Qur’an juga memberitakan bahwa orang-orang Yahudi mengenal kebenaran
namun enggan mengikutinya. Atas dasar ini, para ulama tafsir lain memperluas
pengertian al-maghdhub ‘alaihim sehingga mencakup semua yang telah
mengenal kebenaran namun enggan mengikutinya.[16]
Dari
pemaparan yang cukup panjang diatas, maka dapat kita simpulkan bahwa Surat Al-Fatihah bukan semata-mata
bacaan untuk beribadah saja, tetapi juga mengandung bimbingan untuk membentuk
pandangan hidup setiap muslim.
Tauhid uluhiyah sudah ditunjukkan
keberadaannya dalam ayat, “Alhamdulillah” (Segala puji bagi Allah). Hal itu
dikarenakan penyandaran pujian oleh para hamba terhadap Rabb mereka merupakan
sebuah bentuk ibadah dan sanjungan kepada-Nya, dan itu merupakan bagian dari
perbuatan mereka. Kemudian pada ayat, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”
menunjukkan bahwa ibadah tidak boleh dipersembahkan kecuali kepada Allah.
Demikian pula meminta pertolongan dalam urusan yang hanya dikuasai oleh Allah
juga harus diminta hanya kepada Allah. Kalimat yang pertama menunjukkan
bahwasanya seorang muslim harus melaksanakan ibadahnya dengan ikhlas untuk
mengharap ridha Allah yang disertai kesesuaian amal dengan sunnah Rasulullah
SAW. Sedangkan kalimat yang kedua menunjukkan bahwa hendaknya seorang muslim
tidak meminta pertolongan dalam mengatasi segala urusan agama dan dunianya
kecuali kepada Allah. Dan pada ayat, “Ihdinash shirathal mustaqim” yang
merupakan doa yang termasuk jenis ibadah. Doa ini merupakan permintaan seorang
hamba untuk mendapatkan petunjuk menuju jalan lurus.
Adapun tauhid rububiyah, ia juga
sudah terkandung di dalam ayat, “Rabbil ‘alamin.” Hal itu disebabkan Allah
adalah rabb bagi segala sesuatu, pencipta sekaligus penguasanya. Pada ayat
“Maliki yaumiddin” Allah adalah rabb segala sesuatu dan penguasanya. Seluruh
kerajaan langit dan bumi serta apapun yang berada di antara keduanya adalah
milik-Nya. Dialah Raja yang menguasai dunia dan akhirat.
Sedangkan tauhid asma’ wa shifat,
maka sesungguhnya ayat kedua telah menyebutkan dua buah nama Allah. Kedua nama
itu adalah Allah dan Rabb sebagaimana di dalam ayat, “Rabbil ‘alamin”. Pada
ayat ini kata ‘alamin adalah segala makhluk selain Allah. Allah dengan
dzat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, maka Dialah Sang Pencipta. Sedangkan
semua selain diri-Nya adalah makhluk.
C. Surat Al-Qari’ah (Hari Kiamat)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ
الرَّحِيمِ
اَلْقَارِعَةُ {1} مَاالْقَارِعَةُ
{2} وَمَاأَدْرَاكَ مَاالْقَارِعَةُ {3} يَوْمَ يَكُوْنُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ
الْمَبْثُوْثِ {4} وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوْشِ {5}
فَأَمَّامَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُهُ {6} فَهُوَ فِي عِيْشَتٍ رَّاضِيَةٍ {7}
وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهُ {8} فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ {9} وَمَاأَدْرَاكَ
مَاهِيَهْ {10} نَارٌ حَامِيَةُ {11}.
Artinya:
1.
Hari kiamat,
2.
Apakah hari kiamat itu?
3.
Tahukah kamu apakah hari kiamat itu?
4.
Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran,
5.
Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan.
6.
Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,
7.
Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
8.
Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,
9.
Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
10. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah
itu?
11. (yaitu) api yang sangat panas.
D.
Tafsir dari Surat Al-Qari’ah (Hari Kiamat)
Al-Qari’ah adalah salah satu nama
hari Kiamat, dan ia adalah waktu yang mengagetkan dan mengejutkan manusia
dengan huru-haranya.
1)
Oleh karena itu, Allah membesarkan dan mengagungkan kejadian
itu dengan firman-Nya bernada pertanyaan apakah hari yang mengejutkan itu.?
2)
Kemudian ditambah lagi dengan berfirman, Apakah yang kamu
ketahui dengan kejadian yang mengejutkan itu.?
3)
Kemudian Allah SWT
menjelaskan keadaan manusia pada hari itu. Dia berfirman, yaitu hari di mana
manusia karena sangat terkejutnya menjadi seperti anai-anai yang bertebaran.
Mereka datang, pergi dan berpencar karena kebingungan yang mencapai puncaknya.
Kata Farasy dalam surat ini adalah anai-anai yang keluar pada malam hari,
bercampur aduk tidak tahu mau ke mana dan ketika ada api dinyalakan langsung
berhamburan kepadanya karena pengetahuannya yang lemah. Itulah keadaan manusia,
makhluk yang memiliki akal.
4)
Sedangkan gunung, makhluk bisu dan keras itu, maka ia
seperti bulu yang dihambur-hamburkan, yang wujudnya lemah sekali, bisa
diterbangkan oleh hembusan angin yang lemah, dan setelah itu, menjadi debu yang
beterbangan, kemudian mengecil dan hilang tidak kelihatan.
5)
6-7. Pada saat itulah, timbangan dipasang dan manusia
terbagi menjadi dua golongan: orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang
celaka. Orang yang lebih berat timbangan kebaikannya itulah yang berada di
dalam kehidupan yang enak bahagia, mereka rela dan puas dengan balasan yang
mereka dapatkan di surga.
6)
8-9. Sedangkan golongan kedua, yaitu orang yang timbangan
keburukannya lebih berat, maka tempat tinggalnya adalah neraka, yang salah satu
namanya adalah Hawiyah, di atas kepalanya dia akan terjun ke dalamnya dan
neraka itu baginya bagaikan ibu yang selalu bersamanya.
7)
10-11. Kemudian Allah SWT bertanya tentang Hawiyah itu untuk
menunjukkan kedahsyatan hakekatnya. Dia berfirman, tahukah kamu apakah hawiyah
itu.? Dan dijawab oleh Allah SWT sendiri, ia adalah api yang amat sangat panas,
melebihi panas api di dunia tujuh kali lipat. Kita berlindung kepada Allah SWT
daripadanya.
E. Surat
Al-Hadid ayat 20
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
اعْلَمُوا أَنَّمَا
الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ
وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ
الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا
وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا
الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُور
Artinya : Ketahuilah,
bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang
melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan
tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya
mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat
warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang
keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak
lain hanyalah kesenangan yang menipu.
F. Tafsir dari Surat Al-Hadid ayat 20
1.
Allah
subhanahu wa ta’ala memberitahukan tentang hakikat dunia yang
sebenarnya, dan menjelaskan tentang puncak tertinggi dari kehidupan dunia
beserta penghuninya. Maksud sebenarnya dari ayat ini adalah merendahkan keadaan
dunia dan mengagungkan keadaan akhirat. Yaitu Allah berfirman, “..dunia adalah
permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan..“.
Tidak diragukan lagi bahwa semua ini adalah perkara yang hina. Adapun akhirat
maka di sana ada adzab yang keras yang terus-menerus atau keridhaan Allah yang
selamanya dan tidak diragukan lagi bahwa ini adalah sesuatu yang agung.
2.
Ketahuilah
bahwa kehiduapn dunia ada hikmahnya dan ada benarnya (tidak semua tercela),
karena itulah Allah berbicara dengan malaikat tentang hikmah dunia dan manusia
di dunia (lihat QS. Al-Baqarah: 30-32). Jika sekiranya dunia tidak ada
hikmahnya dan tidak ada benarnya maka tidak mungkin Allah berfirman seperti
itu. Hal ini dikarenakan kehidupan juga merupakan ciptaan Allah sebagaimana
dalam QS. Al-Mulk: 2 dan Allah tidak mungkin menciptakan sesuatu yang
sia-sia sebagaimana dalam QS. Al-Mukminun: 115. Kehidupan ini adalah
suatu nikmat bahkan dia merupakan inti dari semua nikmat sebagaimana dalam QS.
Al-Baqarah: 25. Semua yang telah disebutkan di atas adalah menjadi dalil
bahwa kehidupan dunia ini tidak semuanya tercela, artinya, jika orang
hanya mengarahkan kehidupan dunia ini tidak menuju ketaatan kepada Allah bahkan
taat kepada setan dan mengikuti hawa nafsu, maka itulah yang tercela.
3.
Dunia
mempunyai 5 (lima) sifat, yaitu: (a). Laibun (Permainan), yaitu
permainan badan dan ini adalah perbuatan akan-anak yang mereka itu menjadikan
diri mereka sangat capek dan payah kemudian setelah permainan tersebut selesai
tidak ada fiadah yang didapatkan. (b). Lahwun (Sesuatu yang melalaikan/senda
gurau), yaitu yang membuat hati lalai dan ini adalah perbuatan orang tua
yang kebanyakan setelah perbuatan yang melalaikan itu selesai, maka tidak
tersisa kecuali penyesalan, yang demikian itu dikarenakan orang yang berakal
setelah melakukan perbuatan yang melalaikan dia melihat bahwa hartanya hilang,
umurnya berkurang (pergi) dan kelezatannya habis, sementara nafsu/jiwa semakin
rindu dan haus akan hal tersebut, namun nafsu tidak mendapatkannya, sehingga
terkumpul dampak buruk dan berkesinambungan (tidak pernah puas). (c).
Zinah (Perhiasan), yaitu berhias dalam hal pakaian, makanan, minuman,
kendaraan, rumah, istana, kedudukan, dll. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma
berkata, “Maknaya adalah bahwasanya oran gkafir sibuk sepanjang hidupnya untuk
mencari perhiasan dunia tanpa beramal untuk akhirat.” (d) Saling berbangga
di antara kamu terhadap sifat-sifat yang fana’ (tidak abadi) dan pasti
hilang, yaitu boleh jadi berbangga-bangga dengan nasab, kekuasaan, kekuatan,
bala tentara yang semuanya itu pasti lenyap. Dan saling berbangga di antra kamu
yaitu masing-masing dari penduduk dunia ingin membanggakan atas yang lain dan
ingin supaya dia menjadi pemenang dalam semua urusannya dan ingin mendapatkan
ketenaran (popularitas) dalam semua keadaannya. (e) Berbangga-bangga tentang
harta dan anak, yaitu masing-masing menginginkan dia lebih banyak dari yang
lainnya dalam hal harta dan anak. Semua ini hanya terjadi pada diri pecinta
dunia dan yang merasa damai dengan dunia. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma
berkata, “Mengumpulkan harta dalam kemurkaan Allah dan membanggakan
harta terhadap wali-wali Allah serta mengeluarkan harta dalam perkara-perkara
yang mendatangkan murka Allah maka dia menjadi kegelapan yang
bertumpuk-tumpuk.” Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Apabila
kamu melihat orang yang mengalahkanmu dalam perkara dunia, maka kalahkan dia
dalam hal akhirat.”
4.
Allah
memberikan perumpamaan dunia yaitu seperti hujan yang turun ke bumi sehingga
menjadikan bui itu subur yang kemudian menumbuhkan tanaman yang segar, hijau,
subur dan sangat menarik lagi indah, yang menyebabkan al-kuffar
(petani/orang kafir) merasa kagum terhadapnya karena pandangan (obsesi) mereka
hanya terbatas pada dunia. Lalu, tiba-tiba datanglah hukum Allah yang
menjadikan semua tanaman itu musnah, kering dan hancur, sehingga seakan -akan
tidak pernah ada keindahan dan pemandangan yang menarik sebelumnya. Demikianlah
hakikat dunia…. Ketika pemiliknya telah berada di puncak keindahan dan
kemewahan dunia, apapun yang diinginkan pasti didapatkannya dan semua pintu terbuka
untuknya. Tiba-tiba datanglah keputusan Allah yang menjadikan hilan gsemua ang
ada di tangannya dan yang dikuasainya. Lalu kedua tangannya menjadi hampa,
tidak memiliki dan tidak membawa sedikitpun dari dunia sebagai puncak
cita-citanya yang ia berusaha dan berupaya maksimal untuknya. Demikianlah
hakikat dunia…. Mula-mula anak kecil lalu tumbuh menjadi remaja, dewasa sampai
kemudian menjadi tua renta. Mula-mula kuat lalu menjadi lemah, bahkan tidak
mampu banyak bergerak dan tidak kuasa lagi kecuali sedikit saja. Mula-mula
penampilannya indah lalu berubah menjadi buruk, sebagaimana dalam QS.
Ar-Rum: 54. Tatkala perumpaan ini menjadi bukti bahwa dunia pasti
akan pergi, hilang dan selesai, maka Allah memperingatkan manusia dari dunia
dan memberikan motivasi untuk mengejar apa yang lebih baik dari dunia. Maka
Allah berfirman, “…tiadalah di akhirat yang sebentar lagi, pasti datang
kecuali dari dua hal yaitu adzab yang keras atau ampunan dan ridha dari Allah…”
maksudnya keadaan di akhirat tidak terlepas dari dua perkara ini yakni satu,
adzab yang keras di neraka jahannam dengan belenggunya, rantainya dan semua
kedahsyatannya bagi orang-orang yang menjadikan dunia sebagai cita-cita dan
puncak tujuannya sehingga dia berani berbuat maksiat kepada Allah dan mendustakan
ayat-ayat Allah serta kufur atas nikmat-nikmat Allah, kedua,
ampunan dari Allah terhadap kesalahan-kesalahannya, dihilangkan semua hukuman
dan mendapat keridhaan dari Allah. Dia tinggal di dalam surga yagn penuh dengan
keridhaan Allah bagi orang yang mengenal hakikat dunia sehingga dia berupaya
maksimal untuk memperoleh akhirat. Semua ini mengajak untuk zuhud terhadap
dunia dan bertujuan mencari akhirat. Zuhud adalah meninggalkan semua yang tidak
ada manfaatnya di akhirat. Oleh karena itu Allah berfirman, “…tidaklah
tertipu oleh duni adan tidak merasa damai dengan deunia kecuali orang-orang
yang berakal lemah yang kehidupan dunia menjadikan mereka tertipu...“
Sa’id bin Jubair radhiyallahu’anhu berkata, “Dunia yang dikatakan
sebagai kesenangan yang menipu adalah yang membuatmu lalai dari mencari
akhirat. Adapun yang tidak membuatmu lalai maka bukanlah kesenagan yang menipu
akan tetapi kesenangan yang menyampaikan kepada apa yang lebih baik
daripadanya.” Abu Sofwan Ar-Ro’i rahimahullah ditanya seperti
apakah dunia yang dicela oleh Allah di dalam Al-Qur’an dan sepatutnya dijauhi
oleh orang yang berakal, beliau menjawab, “Semua yang kamu dapatkan daripada
dunia yang tujuanmu adalah dunia juga, maka itulah yang tercela. Dan semua yang
kamu dapatkan dari dunia yang tujuanmu untuk akhirat, maka tidak termasuk di
dalamnya.”
5.
Imam
Ibnu Katsir
membawakan hadist Ibnu Abdullah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala
alihi wa sallam, “Sesungguhnya surga itu lebih dekat kepada seorang dari
kamu daripada tali sandalnya sendiri. Dan neraka juga seperti itu.”
Di dalam hadist ini terdapat dalil atas dekatnya kebaikan dan keburukan dari
manusia. Jika perkaranya seperti itu, maka itulah Allah memotivasi supaya
bersegera dalam melakukan kebaikan-kebaikan yaitu mengerjakan ketaatan-ketaatan
dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan yang menjadikan dosa-dosa dan
ketergelinciran di hapus dan mendapatkan ganjaran dan derajat yang tinggi.
6.
Kemudian
Allah memerintahkan supaya kita berlomba-lomba untuk mendapatkan ampunan Allah,
keridhaan dan surga Allah. Yaitu dengan berupaya dan berusaha melakukan
sebab-sebab yang mendatangkan ampunan Allah. Di antara caranya adalah (a)
Taubat Nasuha, (b) Istighfar yang bermanfaat, yakni istighfar yang membuat
seseorang meninggalkan maksiat. (c) Menjauhi dosa-d0sa dan tempat-tempat
yang bisa menjerumuskan ke dalam dosa, (d) Berlomba-lomba untuk mendapatkan
ridha Allah, yakni dengan beramal shalih dan berusaha keras untuk melakukan
perbuatan-perbuatan yang mendatangkan ridha Allah secara terus-menerus dengan
cara berbuat baik dalam beribadah kepada ALlah dan berbuat baik kepada makhluk
dengna segala macam bentuk manfaat. Allah menyebutkan amalan-amalan yang dapat
mendatangkan itu semuanya, yaitu iman kepada Allah dan Rasul-Nya yang mencakup
masalah yang ushul (pokok/prinsip) dan furu’ (cabang).
PENUTUP
Saya menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan dari bentuk penyusunan maupun materinya mememiliki
kekurangan dan masih memerlukan tambahan dari pembaca, baik itu dari segi
referensi ataupun tulisannya. maka dari itu kritik dan saran yang bersifat
membangun dari pembaca sangat saya harapkan untuk penyempurnaan makalah
selanjutnya.Akhir kata semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat kepada kita sekalian, wassalammualaikum Wr.Wb.
DAFTAR
PUSTAKA:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar